Arsip

Arsip untuk Oktober, 2008

METODE PENGOLAHAN LIMBAH UNTUK PAKAN

METODE PENGOLAHAN LIMBAH

Peningkatan nilai manfaat limbah sebagai bahan pakan ternak dapat dilakukan dengan meningkatkan nilai nutrisi melalui perlakuan dan pengolahan

Unduh MATERI lengkap |PDF|223KB|

PEMANFAATAN LIMBAH UNTUK PAKAN

PEMANFAATAN LIMBAH UNTUK PAKAN

Bahan baku pakan berasal dari bagian-bagian tanaman atau hewan yang dijadikan sebagai pakan kasar (roughage), sumber energi, sumber protein atau sumber mineral. Bahan pakan kasar sebagian besar berasal dari limbah pertanian dan perkebunan di lapangan. Sumber energi dan protein berasal dari sisa pengolahan bahan pangan, biji-bijian, buah-buahan dan sayuran, limbah usaha peternakan dan perikanan. Bahan pakan sumber mineral terutama berasal dari limbah usaha dan pengolahan hasil peternakan dan perikanan

Unduh MATERI lengkap | PDF|205KB |

POTENSI DAN FAKTOR PEMBATAS PEMANFAATAN LIMBAH

POTENSI DAN FAKTOR PEMBATASAN PEMANFAATAN LIMBAH

Limbah sebagai bahan pakan selalu dikaitkan dengan harga yang murah dan kualitas yang rendah, akan tetapi faktanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum limbah digunakan seperti ketersediaan, kontinuitas pengadaan, kandungan gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau zat anti nutrisi, serta perlu tidaknya bahan diolah sebelum dapat digunakan sebagai pakan ternak

Unduh MATERI lengkap | PDF | 344KB |

BAHAN PAKAN

Oktober 23, 2008 jajo66 6 komentar

Bahan makanan ternak atau pakan diartikan sebagai semua bahan yang dapat dimakan oleh ternak. Bahan pakan mengandung sejumlah senyawa yang dibutuhkan oleh ternak dalam menunjang proses kehidupan yang disebut zat makanan. Seperti halnya bahan pangan, sumber utama bahan pakan berasal dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani) baik sebagai produk utama maupun hasil ikutan (limbah) pengolahan produk utama.

Kelaziman penggunaan suatu bahan sebagai bahan penyusun ransum ternak melahirkan istilah bahan pakan konvensional dan nonkonvensional. Bahan pakan konvensional adalah bahan pakan yang sudah umum atau biasa digunakan dalam penyusunan ransum dan istilah bahan pakan nonkonvensional berarti bahan pakan yang jarang atau belum banyak digunakan dalam penyusunan ransum. Pengelompokkan bahan pakan kedalam bahan pakan nonkonvensional dapat berubah seiring tingkat pemanfaatannya dalam ransum.

Bahan pakan nonkonvensional sering diidentikkan sebagai bahan pakan alternatif  yang tengah dievaluasi kualitas, kuantitas dan kontinuitasnya sebagai bahan pakan. Sebagian besar limbah pertanian, perkebunan, limbah agroindustri, limbah peternakan dan limbah perikanan  dikategorikan sebagai bahan pakan nonkonvensional. Beberapa jenis limbah lainnya, seperti dedak, bekatul, bungkil kedelai dan tepung tidak dapat digolongkan sebagai bahan pakan nonkonvensional. Dengan demikian, tidak semua limbah digolngkan kedalam bahan pakan nonkonvensional dan bahan pakan nonkonvensional tidak hanya berasal dari limbah pertanian.

Kandungan serat yang terkandung dalam bahan pakan sering dijadikan sebagai acuan pengelompokkan bahan pakan menjadi konsentrat dan hijauan. Konsentrat dapat berasal dari tanaman pangan beserta produk ikutannya (jagung, dedak, bungkil kedelai), dari hewan (tepung ikan, tepung darah) dan atau dari proses fermentasi (protein sel tunggal). Hijauan berupa rumput-rumputan dan kacang-kacanga  baik dalam bentuk segar, kering maupun produk awetannya.

Nomenklatur internasional mengelompokkan bahan pakan menjadi 8 kelas yaitu:

  1. pakan kasar (roughages) yang meliputi hijauan kering  dan jerami yang dicirikan dengan kandungan serat kasar lebih dari 10% dan mempunyai dinding sel di atas 35%. Contoh pakan kelas 1: jerami, hay, kulit biji tanaman kacang-kacangan.
  2. Hijauan (forage) meliputi pastura, tanaman padangan dan hijauan yang diberikan segar, baik itu dengan sistem gembala (grazing) atau dipotong (cut and carry).
  3. Silase (silage) merupakan produk fermentasi suatu bahan baku oleh mikroorgisme yang dapat dijadikan sebagai bahan pakan. Kelas ini membatasi produk fermentasi yang berasal dari hijauan, tetapi tidak untuk silase ikan, biji-bijian, akar-akaran dan umbi-umbian.
  4. Sumber energi yaitu semua bahan pakan dengan kandungan protein kurang dari 20% dan serat kasar kurang dari 18% atau dinding sel kurang dari 35%.
  5. Sumber protein merupakan bahan pakan dengan kandungan protein kasar 20% atau lebih yang berasal dari hewan (termasuk yang disilase) dan tanaman.
  6. Sumber mineral meliputi semua bahan yang mengandung cukup banyak mineral.
  7. Sumber vitamin termasuk semua bahan yang cukup banyak mengandung vitamin baik yang alami maupun sintetis.
  8. Aditif pakan yang meliputi bahan pewarna, antibiotik, hormon, pengharum, obat-obatan dan air.

Tabel komposisi kimia bahan pakan mengunakan klasifikasi ini dalam pemberian nomor bahan pakan secara internasional.

Categories: BAHAN PAKAN

KLASIFIKASI LIMBAH UNTUK PAKAN

Oktober 21, 2008 jajo66 2 komentar

Penyediaan dan pengadaan pakan, baik untuk ternak ruminansia maupun non ruminansia, pada saat tertentu seringkali menghadapi permasalahan yang berulang. Bagi sebagian besar wilayah di Indonesia, penyediaan pakan ternak ruminansia pada musim kemarau merupakan masalah utama dalam upaya peningkatan produksi dan produktivitas ternak

KLASIFIKASI DAN KARAKTERISTIK LIMBAH

Pemanfaatan limbah atau hasil sampingan sebagai bahan pakan sering mengalami kendala karena setiap jenis limbah mempunyai karakteristik sendiri yang khas. Pengelompokkan limbah berdasarkan kriteria tertentu dapat membantu dalam menentukan jenis pengolahan dan teknologi yang diterapkan serta peruntukkannya bagi ternak

Unduh MATERI lengkap | PDF | 80.7KB |