Arsip

Arsip untuk Januari, 2009

WORKSHOP: ENVIRONMENTALLY-FRIENDLY STRATEGIES LIVESTOCK DEVELOPMENT

Januari 31, 2009 jajo66 Tinggalkan komentar

Fakultas Peternakan Universitas Jambi pada tanggal 7 – 8 Februari 2009 akan menyelenggarakan seminar dan workshop yang bertema “Strategi Pengembangan Peternakan Berwawasan Lingkungan” dengan Pembicara:

  • Prof. Dr. Paul H. Patterson (The Pennsylvania State University USA): Potential pollutants from poultry manure and alternative mitigations strategies.
  • Ir. Husni Jamal. MAgrSt. (Researcher in Agricultural Policy, Office for Regional  Research and Development, Province of Jambi): Livestock Development, environmental issues, and goverment police: a case of Jambi Province
  • Maksudi, Ph.D. (Researcher in Livestock Environment, Faculty of Animal Husbandry, University of Jambi): Effect of global warming on livestock production
  • Dr. drh. F. Manin, MP. and Colleagues (Researchs in Livestock Health and Production, Faculty of Animal Husbandry, University of Jambi): The use probiotics to reduce manure ammonia in poultry farm
Categories: Berita

PENENTUAN KEBUTUHAN PROTEIN BERDASARKAN RDP DAN UDP

Januari 28, 2009 jajo66 Tinggalkan komentar

Kebutuhan protein pada ternak ruminansia pada awalnya didasarkan pada pemenuhan kebutuhan protein kasar dengan pendekatan kecernaannya. Namun sebenarnya metode tersebut mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya tidak membedakan antara protein murni dan nitrogen bukan protein serta tidak dapat menggambarkan pemanfaatan nitrogen bukan protein (Non Protein Nitrogen = NPN) di dalam tubuh ternak. Kecernaan protein kasar dihitung dengan mengurangi protein yang dikonsumsi dengan protein feses.

Dewasa ini telah diperkenalkan beberapa konsep baru dalam menentukan kebutuhan dan evaluasi protein pakan untuk ternak ruminansia. Ada enam konsep yang dikembangkan di beberapa negara yaitu : sistem Rumen Degradable Protein dan Undegraded Dietary Protein (RDP/UDP) yang dikembangkan di Inggis oleh ARC tahun 1977, sistem Protein Digested in The Intestine (PDI) di Prancis oleh INRA tahun 1978, Absorbable Protein in The Intestine (API) di Swiss oleh LANDIS tahun 1979, Amino Acid Truly Absorbed in The Small Intestine Protein Balance in Rumen (AAT,PBV) tahun 1985, Absorbed Protein di USA oleh NRC tahun 1985 dan Crude Protein Flow at Duodenum di Jerman tahun 1986.   Read more…

Categories: TEKNOLOGI PAKAN

PERAN MIKROBA RUMEN PADA TERNAK RUMINANSIA

Januari 28, 2009 jajo66 4 komentar

Adanya mikroba dan aktifitas fermentasi di dalam rumen merupakan salah satu karakteristik yang membedakan sistem pencernaan ternak ruminansia dengan ternak lain. Mikroba tersebut sangat berperan dalam mendegradasi pakan yang masuk ke dalam rumen menjadi produk-produk sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba maupun induk semang dimana aktifitas mikroba tersebut sangat tergantung pada ketersediaan nitrogen dan energi (Yan Offer dan Robert 1996). Kelompok utama mikroba yang berperan dalam pencernaan tersebut terdiri dari bakteri, protozoa dan jamur yang jumlah dan komposisinya bervariasi tergantung pada pakan yang dikonsumsi ternak (Preston dan Leng 1987).

Mikroba rumen membantu ternak ruminansia dalam mencerna pakan yang mengandung serat tinggi menjadi asam lemak terbang (Volatile Fatty Acids = VFA’s) yaitu asam asetat, asam propionat, asam butirat, asam valerat serta asam isobutirat dan asam isovalerat. VFA’s diserap melalui dinding rumen dan dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh ternak. Sedangkan produk metabolis yang tidak dimanfaatkan oleh ternak yang pada umumnya berupa gas akan dikeluarkan dari rumen melalui proses eruktasi (Barry, Thomson dan Amstrong 1977). Namun yang lebih penting ialah mikroba rumen itu sendiri, karena biomas mikroba yang meninggalkan rumen merupakan pasokan protein bagi ternak ruminansia. Sauvant, Dijkstra dan Mertens (1995) menyebutkan bahwa 2/3 – 3/4 bagian dari protein yang diabsorbsi oleh ternak ruminansia berasal dari protein mikroba.

Kualitas pakan yang rendah seperti yang umum terjadi di daerah tropis menyebabkan kebutuhan protein untuk ternak ruminansia sebagian besar dipasok oleh protein mikroba rumen. Soetanto (1994) menyebutkan hampir sekitar 70 % kebutuhan protein dapat dicukupi oleh mikroba rumen. Namun Orskov, Hughes-Jones dan McDonald (1981) menyatakan bahwa untuk memperoleh hasil produksi yang tinggi, khususnya pada fase fisiologi tertentu, misalnya pada masa pertumbuhan awal, bunting dan awal laktasi, pasok protein mikroba belum mencukupi kebutuhan ternak, sehingga ternak memerlukan tambahan pasok protein dari pakan yang lolos fermentasi di dalam rumen.

Produk akhir fermentasi protein akan digunakan untuk pertumbuhan mikroba itu sendiri dan digunakan untuk mensintesis protein sel mikroba rumen sebagai pasok utama protein bagi ternak ruminansia. Menurut Arora (1989) sekitar 47 sampai 71 persen dari nitrogen yang ada di dalam rumen berada dalam bentuk protein mikroba.

Categories: TEKNOLOGI PAKAN

PEMANFAATAN PROTEIN PADA TERNAK RUMINANSIA

Januari 27, 2009 jajo66 Tinggalkan komentar

Protein yang dikonsumsi sebagian akan didegradasi di dalam rumen dan yang lain akan dicerna di dalam usus halus atau dikeluarkan melalui feses. Proporsi protein yang terdegradasi di dalam rumen bervariasi tergantung pada jenis bahan pakan, namun Satter dan Roffler (1981) menyebutkan bahwa protein yang terdegradasi dalam rumen besarnya rata-rata sekitar 60 persen.

Degradasi protein di dalam rumen menghasilkan peptida dan asam amino, dimana sebagian asam amino tersebut akan didegradasi lebih lanjut menjadi asam lemak terbang, amonia dan karbondioksida. Amonia yang terbentuk merupakan sumber nitrogen utama bagi pertumbuhan mikroba. Sebagian amonia diabsorbsi lewat dinding rumen dan dibawa ke hati yang akan diubah menjadi urea. Urea yang terbentuk sebagian masuk kembali ke dalam rumen baik melalui saliva maupun yang langsung menembus dinding rumen dan sebagian dikeluarkan melalui urin.

Kejadian yang terpenting dari proses degradasi protein di dalam rumen ialah ketersediaan nitrogen bagi pertumbuhan mikroba yang berperan dalam penyediaan protein di dalam usus halus. Poncet dkk. (1995) menyebutkan bahwa protein mikroba rata-rata memberikan kontribusi sebesar 59 persen dari asam amino yang masuk ke usus halus. Asam amino pakan yang lolos degradasi akan melengkapi kebutuhan asam amino bagi ternak untuk berproduksi secara optimum. Dengan demikian pasok asam amino bagi ternak ruminansia tergantung pada protein pakan yang lolos degradasi di dalam rumen dan protein mikroba yang terbentuk sebagai hasil fermentasi di dalam rumen (Wallace 1994).

Categories: TEKNOLOGI PAKAN

FERMENTASI JERAMI DENGAN AMONIA

Januari 27, 2009 jajo66 3 komentar

Kendala utama pemanfaatan jerami padi sebagai salah satu bahan pakan ternak ruminansia adalah kandungan protein kasar dan kecernaan yang rendah. Penggunaan jerami secara langsung dan sebagai pakan tunggal tentu tidak dapat memenuhi pasokan nutrisi yang dibutuhkan ternak. Kondisi ini tentu akan mengganggu penampilan ternak secara keseluruhan. Pasokan protein dibutuhkan oleh mikroba rumen untuk pertumbuhan dan meningkatkan populasi optimum untuk proses degradasi fraksi serat bahan pakan dalam rumen.

Optimasi pemanfaatan jerami sebagai bahan pakan dapat ditingkatkan melalui perlakuan secara fisik, kimia maupun biologi. Berdasarkan karakteristik jerami yang rendah protein dan kecernaan maka perlakuan yang diberikan harus dapat mengeliminir kedua kendala ini. Perlakuan yang diberikan harus mampu meningkatkan kandungan protein dan kecernaan jerami.

Teknologi peningkatan kualitas jerami yang paling mungkin diterapkan ditingkat pedesaan adalah teknik amoniasi. Amoniasi mampu meningkatkan nilai nutrisi pakan kasar melalui peningkatan daya cerna, konsumsi, kandungan protein kasar pakan dan memungkinkan penyimpanan bahan pakan berkadar air tinggi dengan menghambat pertumbuhan jamur.
Sumber amonia dalam amoniasi yang digunakan dapat berupa gas amonia, amonia cair, urea maupun urin. Daya kerja amonia dalam perlakuan amoniasi diantaranya sebagai bahan pengawet terhadap bakteri dan fungi yang berkembang pada bahan selama proses, sumber nitrogen yang berfiksasi dengan jaringan tanaman dan pemecah ikatan lignin dan karbohidrat. Read more…