Beranda > TEKNOLOGI PAKAN > PENINGKATAN NILAI MANFAAT JERAMI SEBAGAI BAHAN PAKAN

PENINGKATAN NILAI MANFAAT JERAMI SEBAGAI BAHAN PAKAN

Pemanfaatan utama areal persawahan adalah untuk menghasilkan komoditi pangan terutama tanaman padi. Daya dukung tanaman padi sebagai sumber bahan baku pakan ternak cukup besar. Beberapa limbah yang dikeluarkan dari usaha tanaman padi diantaranya jerami yang besarnya mencapai 100% dari produksi gabah, bekatul 1,5%, dedak kasar 4% dan dedak halus 2,5% dan sekam 24%.

Konsep zero waste dapat diterapkan pada usaha tanaman padi. Limbah yang dihasilkan dari tanaman padi dapat digunakan secara keseluruhan. Jerami dapat digunakan sebagai pupuk atau pakan ternak, sekam untuk litter, dedak dan bekatul untuk pakan ternak dan merang sebagai media pertumbuhan jamur. Jerami melalui teknologi pengolahan yang tepat dapat menjadi sumber pakan yang berlimpah bagi ternak. Tanaman padi menghasilkan jerami dengan jumlah yang setara dengan jumlah gabah atau 100%. Luas areal tanaman padi di Indonesia pada tahun 2008 adalah 12.343.617 hektar, produktivitas 4,84 ton per hektar dan produksi gabah sebesar 60.279.897 ton (Deptan 2008) maka diperkirakan produksi jerami pada tahun 2008 mencapai 60juta ton. Kebutuhan seekor ternak dengan berat badan 325 kg (1 Unit Ternak = UT) sekitar 8 kg BK (2,5% dari bobot badan) per hari atau 2,92 ton per tahun, daya dukung jerami setiap tahunnya dapat memenuhi kebutuhan untuk sekitar 12,5 juta unit ternak. Angka ini merupakan potensi pengadaan bahan pakan ternak yang sangat luar biasa.

Potensi fisik jerami yang sangat besar belum sepenuhnya dimanfaatkan. Pemanfaatan jerami sebagian besar dibakar (37%) untuk pupuk, dijadikan alas kandang (36%) yang kemudian dijadikan kompos dan hanya sekitar 15% sampai 22% yang digunakan sebagai pakan ternak. Kendala utama penggunaan jerami sebagai bahan pakan ternak adalah kecernaan (45-50%) dan protein (3-5%) yang rendah. Jerami sebagai limbah tanaman tua, jaringannnya telah mengalami lignifikasi tingkat lanjut dan tingginya kandungan silikat.

Nilai manfaat jerami padi sebagai bahan pakan ternak dapat ditingkatkan dengan dua cara, yaitu dengan mengoptimumkan lingkungan saluran pencernaan atau dengan meningkatkan nilai nutrisi jerami. Optimasi lingkungan saluran pencernaan terutama rumen, dapat dilakukan dengan pemberian bahan pakan suplemen yang mampu memicu pertumbuhan mikroba rumen pencerna serat seperti bahan pakan sumber protein. Sementara nilai nutrisi dan tingkat pemanfaatan dapat diperbaiki dengan memberikan perlakuan yang dapat meningkatkan kandungan protein dan perenggangan ikatan lignoselulosa. Perlakuan yang paling umum dilakukan adalah perlakuan amoniasi. Sumber amonia dalam amoniasi yang digunakan dapat berupa gas amonia, amonia cair, urea maupun urin. Daya kerja amonia dalam perlakuan amoniasi diantaranya sebagai bahan pengawet terhadap bakteri dan fungi yang berkembang pada bahan selama proses, sumber nitrogen yang berfiksasi dengan jaringan tanaman dan pemecah ikatan lignin dan karbohidrat. Indikator keberhasilan pengolahan dengan amonia dapat dilihat dari kandungan protein dan daya cerna bahan yang diolah yang salah satunya dipengaruhi oleh dosis amonia. Dosis amonia merupakan berat nitrogen yang dipergunakan dibandingkan berat bahan kering bahan. Dosis amonia optimum sekitar 3-5% dari bahan keing bahan. Konsentrasi amonia kurang dari 3% tidak berpengaruh terhadap daya cerna dan protein kasar bahan dan amonia hanya berperan sebagai pengawet. Konsentrasi amonia lebih dari 5% menyebabkan perlakuan tidak efisien karena banyak amonia yang terbuang.

Urea merupakan sumber amonia yang murah karena setiap kg urea akan dihasilkan 0.57 kg amonia. Perlakuan urea merupakan hasil dari dua proses yang dilakukan secara simultan yaitu hidrolisis urea (ureolysis) dan kerja amonia terhadap dinding sel bahan. Asumsi setiap kilogram urea secara sempurna dikonversi akan menghasilkan 0.57 kg amonia, maka dapat diperkirakan dosis optimum urea untuk amoniasi yaitu berkisar antara 5 – 8,7 persen.

Urea dapat meningkatkan kandungan protein, karena sekitar 30% amonia yang terdapat pada proses amoniasi dapat diikat oleh jaringan tanaman. Urea disamping mampu merenggangkan ikatan lignin dengan komponen polisakarida juga berperan sebagai sumber nitrogen oleh mikroba rumen untuk aktivitas sintesis protein sehingga bisa membuat jerami padi menjadi lebih baik untuk dikonsumsi dan daya cernanya yang tinggi.

Lama perlakuan adalah lamanya waktu memeram bahan limbah dalam larutan sumber amonia. Dibanding dengan NaOH, amonia mempunyai reaksi kimia yang lebih rendah sehingga memerlukan waktu pemeraman yang lebih lama. Lama waktu pemeraman sangat bervariasi tergantung pada temperatur saat perlakuan dan metode yang digunakan. Hal ini disebabkan secara kimia reaksi akan berjalan lebih cepat pada temperatur yang lebih tinggi. Perlakuan amoniasi dengan urea memerlukan waktu lebih lama karena dibutuhkan proses perombakan urea oleh enzim urease menjadi amonia. Lama perlakuan sekitar 8 minggu pada suhu 5oC dan sekitar 1 minggu pada suhu 30oC.

bacaan terkait : FERMENTASI JERAMI DENGAN AMONIA

Categories: TEKNOLOGI PAKAN
  1. Januari 4, 2009 pukul 11:38 am | #1

    Tulisan ini bagus sekali….

    Sebab banyak petani sekaligus peternak di daerah saya yang masih belum tau dalam memanfaatkan jerami.

    Karena merasa risih dengan keberadaannya, mereka lebih memilih membakarnya.

    Terima kasih, tulisan ini akan saya informasikan kepada petani di daerahku

  2. Januari 6, 2009 pukul 6:29 pm | #2

    Saya bangga punya kawan yang mau mengabdikan dirinya di bidang pendidikan, apalagi hasilnya dapat dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat banyak, khususnya masyarakat kelas menangah ke bawah.
    teruslah berjuang kawan !!!!!

    Poeji Raharjo
    III E, SMPN 1 Serpong
    HP 0856 9225 5675 – 0818 483260

  3. jajo66
    Januari 7, 2009 pukul 10:06 am | #3

    Apa khabar mas Poeji, Salam sama temen-temen. Undang aku kalau ada reunian lagi, udah 25 tahun lho… reuni perak … euy.

  1. Januari 27, 2009 pukul 8:49 am | #1