Arsip

Archive for the ‘TEKNOLOGI PAKAN’ Category

KANDUNGAN AIR BAHAN SILASE : PELAYUAN

September 8, 2009 jajo66 1 comment

Posting terdahulu (KANDUNGAN AIR BAHAN SILASE) mencoba menerangkan bagaimana dan berapa banyak air yang harus ditambahkan ke dalam bahan sehingga diperoleh kadar air (KA) yang ideal untuk ensilase. Tulisan kali ini mencoba membahas hal yang sebaliknya yaitu berapa banyak air yang harus dikurangi (jika KA bahan terlalu tinggi) agar memenuhi persyaratan KA dalam pembuatan silase.

Berapa lama dan berapa banyak air yang perlu dikurangi? Pengurangan kadar air bahan dilakukan dengan pelayuan. Waktu yang dibutuhkan untuk pelayuan sangat tergantung pada cuaca, penempatan bahan dan berbagai kondisi lain yang dapat mempengaruhi penguapan air bahan. Bagi mereka yang sudah sangat terbiasa membuat silase dan berdasarkan pengalamannya sudah dapat menentukan lama waktu pelayuan dan kandungan air bahan.

Bagaimana untuk orang yang berpengalaman seperti saya? Saya coba membuat perhitungan sederhana untuk memprediksi berat bahan setelah pelayuan dengan kadar air yang ingin dicapai. Data yang harus dimiliki adalah berat bahan yang akan dijadikan silase (A, gr),  Bahan Kering (B, %) dan Kadar Air (C, %).

X = (A * B)/(100 – %D)

dimana X adalah berat bahan setelah pelayuan dan D adalah   kadar air (%) yang ingin dicapai setelah pelayuan. Sebagai contoh : 10 kg  bahan dengan kadar air 80% ingin dilayukan sehingga memiliki kadar air 65%.  Sampai berat berapa kilogram proses pelayuan dihentikan?

Penyelesaian: Berat Bahan (A): 10 kg; Kadar Air Awal (C): 80%; Bahan Kering (B): 100-80=20%; Kadar Air Setelah Pelayuan (D): 65%

X = (10 * 20)/(100-65)
= 200/35
= 5.71 kg
jadi proses pelayuan dihentikan setelah berat bahan mendekati 5.71 kg. Pembuktian kadar air bahan adalah 65%:

= 100% * (Berat bahan akhir – berat bahan awal)/berat bahan akhir
= 100% * (5.71 kg – (10 kg * 20%)/5.71 kg
= 64.97%

Selamat mencoba…

KANDUNGAN AIR BAHAN SILASE

September 4, 2009 jajo66 Tinggalkan komentar

Sejak awal telah dipahami bahwa silase merupakan suatu produk yang dihasilkan melalui proses fermentasi bahan dengan kadar air tinggi. Bahan baku yang dapat dijadikan silase sangat beragam mulai dari hijauan makanan ternak (rumput dan legum) sampai hasil dan limbah tanaman pertanian dengan jumlah air yang terkandung didalamnya sangat beragam. Untuk mencapai kandungan air (KA) yang  ideal dalam pembuatan silase maka diperlukan perlakuan pendahuluan terhadap bahan, baik untuk menurunkan KA (terutama pada hijauan) dengan pelayuan maupun untuk meningkatkan KA dengan penambahan air pada bahan. Estimasi KA  bahan  baku untuk aplikasi tingkat lapangan sangat tergantung pada kemampuan dan pengalaman pembuat silase. Berdasarkan pengalaman dapat ditentukan lama pengeringan atau jumlah air yang perlu ditambahkan agar diperoleh kondisi pembuatan silase yang ideal.

Masalahnya akan berbeda jika pembuatan silase dilakukan dalam rangkaian penelitian, misalnya untuk menyelesaikan tugas akhir, yang semuanya harus serba terukur dan pasti. Pengurangan kadar air dengan pelayuan perlu ditentukan lama dan KA akhir yang diperoleh. Demikian juga penambahan air pada bahan dengan KA yang rendah, diperlukan perhitungan yang lebih cermat.

Kita sering kali salah mengantisipasi jumlah air yang perlu kita tambahkan dalam pembuatan silase yang sangat tergantung pada KA awal dan akhir bahan baku. Jumlah air yang ditambahkan perlu memperhitungkan jumlah air yang terdapat dalam bahan sebelum ditambahkan. Secara sederhana jumlah air yang ditambahkan dapat ditentukan dengan membagi kandungan bahan kering awal (BKawal) dengan bahan kering akhir (BKakhir) yang ingin dicapai dan hasilnya dikurangi jumlah kadar air (KAawal)dan bahan kering awal (BKawal).

% penambahan air = [(BKawal/BKakhir)*100%] – (BKawal + KAawal)

Sebagai contoh: jika 20 kg bahan dengan kadar air  20% dan akan dijadikan silase dengan kadar air 60% maka jumlah air yang perlu ditambahkan pada bahan adalah 100 persen dari berat bahan atau 20 liter, dengan perhitungan:

KA awal = 20%         BK awal = 100-20 = 80%         KA akhir = 60%            BK akhir  = 40%
% penambahan air  = [(80%/40%) x 100%] – (80% + 20%) = 100 %
jumlah air yang ditambahkan = 20 kg x 100% = 20 kg atau 20 liter

Mengapa banyak sekali? begitulah hasil perhitungannya. Mari coba kita buktikan bahwa setelah penambahan 20 liter air KA bahan tadi adalah 60%.

Berat kering bahan adalah 20 kg x 80% = 16 kg dan berat air 20% x 20 kg = 4 kg.
Setelah penambahan air berat kering bahan tetap 16 kg tetapi berat air bertambah menjadi 20 kg + 4 kg = 24 kg.
Berat bahan setelah penambahan air menjadi 16 + 24 = 40 kg.
Sehingga kadar air (%) setelah penambahan (24/40) x100% = 60%.

Dimana sering terjadi kekeliruan? Seringkali kita lupa atau melupakan kandungan air yang telah terdapat didalam bahan sebelum penambahan sehingga jumlah air yang ditambahkan menjadi lebih besar.

Jumlah air yang ditambahkan dalam pembuatan silase akan sangat berbeda tergantung pada kondisi awal kadar air bahan dan target akhir kandungan air bahan  saat prose pembuatan silase berlangsung. Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Tulisan Terkait: Kandungan Air Bahan Silase: Pelayuan

KANDUNGAN AIR BAHAN SILASE | PDF 32.2 KB |

PENENTUAN KEBUTUHAN PROTEIN BERDASARKAN RDP DAN UDP

Januari 28, 2009 jajo66 Tinggalkan komentar

Kebutuhan protein pada ternak ruminansia pada awalnya didasarkan pada pemenuhan kebutuhan protein kasar dengan pendekatan kecernaannya. Namun sebenarnya metode tersebut mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya tidak membedakan antara protein murni dan nitrogen bukan protein serta tidak dapat menggambarkan pemanfaatan nitrogen bukan protein (Non Protein Nitrogen = NPN) di dalam tubuh ternak. Kecernaan protein kasar dihitung dengan mengurangi protein yang dikonsumsi dengan protein feses.

Dewasa ini telah diperkenalkan beberapa konsep baru dalam menentukan kebutuhan dan evaluasi protein pakan untuk ternak ruminansia. Ada enam konsep yang dikembangkan di beberapa negara yaitu : sistem Rumen Degradable Protein dan Undegraded Dietary Protein (RDP/UDP) yang dikembangkan di Inggis oleh ARC tahun 1977, sistem Protein Digested in The Intestine (PDI) di Prancis oleh INRA tahun 1978, Absorbable Protein in The Intestine (API) di Swiss oleh LANDIS tahun 1979, Amino Acid Truly Absorbed in The Small Intestine Protein Balance in Rumen (AAT,PBV) tahun 1985, Absorbed Protein di USA oleh NRC tahun 1985 dan Crude Protein Flow at Duodenum di Jerman tahun 1986.   Read more…

Categories: TEKNOLOGI PAKAN

PERAN MIKROBA RUMEN PADA TERNAK RUMINANSIA

Januari 28, 2009 jajo66 4 komentar

Adanya mikroba dan aktifitas fermentasi di dalam rumen merupakan salah satu karakteristik yang membedakan sistem pencernaan ternak ruminansia dengan ternak lain. Mikroba tersebut sangat berperan dalam mendegradasi pakan yang masuk ke dalam rumen menjadi produk-produk sederhana yang dapat dimanfaatkan oleh mikroba maupun induk semang dimana aktifitas mikroba tersebut sangat tergantung pada ketersediaan nitrogen dan energi (Yan Offer dan Robert 1996). Kelompok utama mikroba yang berperan dalam pencernaan tersebut terdiri dari bakteri, protozoa dan jamur yang jumlah dan komposisinya bervariasi tergantung pada pakan yang dikonsumsi ternak (Preston dan Leng 1987).

Mikroba rumen membantu ternak ruminansia dalam mencerna pakan yang mengandung serat tinggi menjadi asam lemak terbang (Volatile Fatty Acids = VFA’s) yaitu asam asetat, asam propionat, asam butirat, asam valerat serta asam isobutirat dan asam isovalerat. VFA’s diserap melalui dinding rumen dan dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh ternak. Sedangkan produk metabolis yang tidak dimanfaatkan oleh ternak yang pada umumnya berupa gas akan dikeluarkan dari rumen melalui proses eruktasi (Barry, Thomson dan Amstrong 1977). Namun yang lebih penting ialah mikroba rumen itu sendiri, karena biomas mikroba yang meninggalkan rumen merupakan pasokan protein bagi ternak ruminansia. Sauvant, Dijkstra dan Mertens (1995) menyebutkan bahwa 2/3 – 3/4 bagian dari protein yang diabsorbsi oleh ternak ruminansia berasal dari protein mikroba.

Kualitas pakan yang rendah seperti yang umum terjadi di daerah tropis menyebabkan kebutuhan protein untuk ternak ruminansia sebagian besar dipasok oleh protein mikroba rumen. Soetanto (1994) menyebutkan hampir sekitar 70 % kebutuhan protein dapat dicukupi oleh mikroba rumen. Namun Orskov, Hughes-Jones dan McDonald (1981) menyatakan bahwa untuk memperoleh hasil produksi yang tinggi, khususnya pada fase fisiologi tertentu, misalnya pada masa pertumbuhan awal, bunting dan awal laktasi, pasok protein mikroba belum mencukupi kebutuhan ternak, sehingga ternak memerlukan tambahan pasok protein dari pakan yang lolos fermentasi di dalam rumen.

Produk akhir fermentasi protein akan digunakan untuk pertumbuhan mikroba itu sendiri dan digunakan untuk mensintesis protein sel mikroba rumen sebagai pasok utama protein bagi ternak ruminansia. Menurut Arora (1989) sekitar 47 sampai 71 persen dari nitrogen yang ada di dalam rumen berada dalam bentuk protein mikroba.

Categories: TEKNOLOGI PAKAN

PEMANFAATAN PROTEIN PADA TERNAK RUMINANSIA

Januari 27, 2009 jajo66 Tinggalkan komentar

Protein yang dikonsumsi sebagian akan didegradasi di dalam rumen dan yang lain akan dicerna di dalam usus halus atau dikeluarkan melalui feses. Proporsi protein yang terdegradasi di dalam rumen bervariasi tergantung pada jenis bahan pakan, namun Satter dan Roffler (1981) menyebutkan bahwa protein yang terdegradasi dalam rumen besarnya rata-rata sekitar 60 persen.

Degradasi protein di dalam rumen menghasilkan peptida dan asam amino, dimana sebagian asam amino tersebut akan didegradasi lebih lanjut menjadi asam lemak terbang, amonia dan karbondioksida. Amonia yang terbentuk merupakan sumber nitrogen utama bagi pertumbuhan mikroba. Sebagian amonia diabsorbsi lewat dinding rumen dan dibawa ke hati yang akan diubah menjadi urea. Urea yang terbentuk sebagian masuk kembali ke dalam rumen baik melalui saliva maupun yang langsung menembus dinding rumen dan sebagian dikeluarkan melalui urin.

Kejadian yang terpenting dari proses degradasi protein di dalam rumen ialah ketersediaan nitrogen bagi pertumbuhan mikroba yang berperan dalam penyediaan protein di dalam usus halus. Poncet dkk. (1995) menyebutkan bahwa protein mikroba rata-rata memberikan kontribusi sebesar 59 persen dari asam amino yang masuk ke usus halus. Asam amino pakan yang lolos degradasi akan melengkapi kebutuhan asam amino bagi ternak untuk berproduksi secara optimum. Dengan demikian pasok asam amino bagi ternak ruminansia tergantung pada protein pakan yang lolos degradasi di dalam rumen dan protein mikroba yang terbentuk sebagai hasil fermentasi di dalam rumen (Wallace 1994).

Categories: TEKNOLOGI PAKAN